Komunitas Omah Laras Adakan Nonton Bersama dan Diskusi Film Dokumenter The Bajau

indonesiasatu, 14 Jan 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

SINGARAJA - Komunitas Omah Laras bersama beberapa komunitas lainnya mengadakan nonton bareng film dokumenter The Bajau dan diskusi pada 13/01/20 di halaman perpustakaan undiksha.

Bukan hanya anggota komunitas yang nonton film dokumenter ini tetapi mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) juga ikut nonton dan diskusi bareng.

Film dokumenter The Bajau sendiri oleh What Doc di dukung Manik Bumi untuk membuka wawasan mahasiswa agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar terutama kehidupan suku Bajau. 

Pemutaran Film dokumenter ini pertama kali di Singaraja dimotori oleh komunitas Omah Laras ini bertujuan agar penonton mengetahui bahwa diluar sana masih banyak orang yang hidupnya tidak didarat layaknya masyarakat pada umumnya. 

Acara nonton bersama dimulai dari pukul 19:00 WITA sampai akhir film kemudian dilanjut dengan diskusi bersama terkait isi dari film dokumenter The Bajau hingga selesai pembahasan ditutup dengan tanya jawab.

Sebelum pemutaran dimulai di awali dengan akustikan agar acara nonton bereng cair dan seru tidak kaku dan formal tetapi dapat ilmu. 

Pemantik dari film dokumenter ini orang sepeken dari suku Bajau yakni Arul ditemani oleh pemantik lain yaitu Toto dari Indramayu agar diskusi lebih seru dan menarik. 

Arul menyampaikan, "Suku Bajau berasal dari suku Sulu, Filipina, dan ada bilang bahwa suku Bajau berasal dari Malaysia atau Indonesia, yang mana pada initinya Bajau ini etnis omnipresence, menyebar dan ada dimana-mana terutama di laut Asia Tenggara".

Di dalam film ini menjelaskan bahwa kehidupan sehari-hari suku Bajau ini berada diatas laut dengan menggunakan perahu kecil yang diberi atap sekaligus rumah bagi mereka.

Pada tahun 2014 yang lalu sebanyak 500 orang dari mereka sempat ditangkap oleh pemerintah Indonesia dikira nelayan asing ilegal untuk mecuri karena tidak mempunyai identitas. 

Sehingga Filipina, Malaysia, dan Indonesia memaksa mereka untuk hidup di darat agar mempunyai identitas tetap. 

Padahal dulu untuk kebutuhan pokok sehari-hari seperti makan dan sebagainya semuanya dari luat, karena menurut mereka laut adalah identitas mereka sekaligus ibu kandungnya. 

Abdul Haq sebagai mahasiswa undiksha mengatakan, "Saya mengikuti kegiatan sebagai tempat nongkrong tetapi tongkrongan yang berfaedah dan berilmu sekaligus menambah kawan".

Dayat sebagai anggota Komunitas Omah Laras menyampaikan, "Kegiatan ini kami buat untuk membuka wawasan kepada mahasiswa agar mengetahui bagaimana kehidupan suku Bajau dan dari mana mereka berasal".

"Selain itu kami juga menyediakan kotak donasi, yang mana hasilnya nanti akan kami serahkan kepada mereka (di dalam film) untuk membantu mereka buat beli obat-obatan, perahu, dan sebagainya" ungkapnya

"Semoga dengan kegiatan ini temen-temen semua khususnya suku Bajao yang ada di Singaraja mengetahui dan mengenali budaya mereka sendiri sehingga bisa menjaga lingkungan terutama luat dan tidak membuang sampah ke laut".harapnya. (Red)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu